CINTA MEMBUAT KITA BERSAYAP
Wednesday, April 30th, 2008CINTA MEMBUAT KITA BERSAYAP
Posted by Gede Prama on 2005-02-15
Entah dari mana datangnya kekuatan, setelah belajar
jauh ke negeri orang bertahun-tahun, membaca ribuan buku, majalah, koran,
mengumpulkan pengetahuan lewat internet, dicerahkan oleh pergaulan yang
demikian luas, diperkaya oleh film yang sempat saya tonton, namun bolak-balik
saya didamparkan pada puncak ide yang bernama cinta. Mirip dengan guru Aikido
yang bernama Morihei Ueshiba, yang menyebut hanya ada satu puncak yaitu
cinta, perjalanan ide saya juga demikian. Dari bacaan, pergaulan, maupun
tontotan, semuanya berujung pada lorong yang bernama cinta.
Demikian juga ketika saya bersama anak-anak menonton film The Theory of
Conspiracy di HBO suatu malam pertangahan Maret 2000. Film inspiratif yang
dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts ini, memang dilatarbelakangi oleh dunia
intelejen yang penuh teka-teki, menantang dan kadang kejam. Mel Gibson dan
Julia Roberts memang bermain mengagumkan. Namun, yang lebih mengagumkan adalah
cerita film ini. Untuk tujuan kekuasaan yang penuh kekejaman, kerakusan dan
keserakahan, Mel Gibson memorinya diacak-acak dan dihancurkan. Kemudian,
diformat ulang agar ia menjadi seorang pembunuh yang berdarah
dingin. Yang diharapkan bisa membunuh seorang hakim yang membongkar kasus lama.
Akan tetapi, begitu Mel Gibson siap membunuh sang hakim, ia melihat cinta
seorang hakim terhadap puterinya (Julia Roberts) yang menawan.Entah cinta sang
hakim pada puterinya, atau cintaseorang pria kepada seorang wanita, yang jelas
seluruh energi cinta ini menghentikan energi membunuh Mel Gibson yang penuh
dengan format penguasa.
Merasa takut dan tidak puas dengan hasil format terhadap Mel Gibson, ia pun
dikejar dan disiksa. Bahkan sampai mengerahkan seluruh komponen aparat
keamanan. Sekali lagi, ia selamat berkat sayap yang bernama cinta. Di akhir
cerita, secara amat romantis Mel Gibson bertutur apik : love gives us wing.
Kalimat apik terakhir ini mengingatkan saya pada sejumlah pengalaman berat.
Dalam presentasi di depan petinggi-petinggi Citibank
Indonesia
dari country manager
sampai dengan semua vice president saya bertemu dengan banyak sekali orang
pintar dengan jam terbang yang mengagumkan… Demikian juga ketika diajak
keliling
Indonesia
oleh Tupper Ware. Saya bertemu dengan
banyak manusia yang amat beragam. Hal yang sama juga terjadi, ketika melakoni
diri menjadi konsultan yang harus berhadapan dengan pengusaha-pengusaha sukses
yang kaya raya.
Ada
yang sombong, merendahkan, menghina sampai dengan kagum penuh pujian.
Akan tetapi, dengan modal sayap yang bernama cinta, semua itu lewat tanpa
halangan yang menakutkan. Seorang peserta lokakarya yang amat sarkastis di
awal, di akhir malah memeluk saya sambil memberikan hadiah sepasang sepatu
mahal. Kerap saya ragu dan bingung, tanpa usaha yang terlalu keras,
bagaimana orang yang demikian bermusuhan awalnya menjadi demikian bersahabat…
Dalam politik perkantoran juga sama. Kepala saya pernah diinjak dan dikencingin
orang lain. Bahkan ada yang melakukannya di depan umum. Entah dari mana
datangnya kekuatan, orang-orang seperti ini belakangan tidak sedikit yang
menaruh hormat yang tinggi.
Dan setelah mendengar pesan Mel Gibson bahwa love gives us wing, saya baru saja
sadar. Bahwa cinta bisa membuat kita bersayap. Untuk kemudian, terbang
tinggi-tinggi dalam kehidupan. Tidak hanya tinggi dalam prestasi materi, tetapi
juga tinggi dalam prestasi spiritual. Lebih dari itu, sebagaimana burung yang
bersayap, tubuh dan jiwa ini juga menikmati kebebasan yang demikian
mengagumkan. Imajinasi, inovasi, inspirasi datang demikian mudahnya dalam
kehidupan yang bersayapkan cinta.
Coba perhatikan lirik lagu Boyzone yang berjudul Every Day I Love You, It’s a
touch when I feel bad, It’s a smile when I get mad. Cinta memang bisa demikian
memabukkan kalau tidak dibingkai dengan kedewasaan dan kearifan. Namun begitu
ia berada dalam bingkai kedewasaan dan kearifan, ia berfungsi persis seperti
sayap besar dan tangguh. Dan siap membawa kita kemana saja kita pergi dalam
kehidupan.
Bercermin dari filmnya Mel Gibson, pengalaman pribadi saya, maupun lagunya
Boyzone, akan banyak gunanya kalau kita membanjiri diri kita dengan cinta. Dan
ini sebenarnya tidak sulit. Energi cinta tersedia demikian melimpah di
mana-mana. Istri, suami, anak, orang tua, tetangga, alam semesta, Tuhan adalah
sumber dan sekaligus tempat penyaluran cinta. Kita bisa melakukannya kapan saja
dan di mana saja baik dengan biaya mahal maupun murah.
Saya menyisakan sebagian kecil makanan di pinggir piring setiap kali makan,
meletakkan segenggam nasi di pinggir taman rumah agar dimakan oleh
burung-burung gereja yang datang setiap pagi, meletakkan daun talas di kolam
ikan agar ikan makan dengan lahap, membagi sebagian kecil rejeki ke orang-orang
bawah yang memerlukan, memberi semampu mungkin ke anak, isteri dan orang
tua. Anda saya yakin punya cara yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan
saya. Mencintai juga lebih hebat dibandingkan dengan saya. Namun, jangan pernah
lupa, cinta membuat kita bersayap. Dan kemudian membuat tubuh dan jiwa ini
terbang demikian enteng dan ringan. Seperti Mel Gibson yang mengalahkan format
teknologi yang demikian mengagumkan namun kejam.